MUARA TEWEH – Pemerintah Kabupaten Barito Utara menunjukkan keseriusan dalam memerangi peredaran gelap narkotika di wilayahnya. Hal ini ditegaskan dalam audiensi strategis bersama Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Tengah yang berlangsung di Gedung Balai Antang, Muara Teweh, Rabu (11/02/2026).
Acara yang dipandu oleh Sekda Drs. Muhlis tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin, bersama Kepala BNNP Kalteng, Brigjen Pol Mada Roostanto, S.E., M.H., serta jajaran perangkat daerah terkait.
Dalam sambutannya, Bupati H. Shalahuddin menegaskan bahwa ancaman narkoba harus dihadapi dengan langkah konkret dan lintas sektor. Ia memperkenalkan program unggulan daerah sebagai ujung tombak perlawanan terhadap barang haram tersebut.
“Komitmen kami sudah sangat jelas melalui program Gerakan Batara Bersinar (Barito Utara Bersih dari Narkoba). Audiensi ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan langkah strategis untuk memperkuat pencegahan, rehabilitasi, hingga penindakan,” ujar Bupati Shalahuddin.
Bupati berharap kolaborasi ini dapat memperketat pengawasan, tidak hanya pada peredaran narkotika tetapi juga pada prekursor narkotika yang kerap menjadi bahan baku ilegal.
Senada dengan Bupati, Kepala BNNP Kalteng Brigjen Pol Mada Roostanto memberikan peringatan keras mengenai dampak destruktif narkoba. Ia menyebut narkoba sebagai kejahatan luar biasa yang merusak fondasi keluarga.
“Narkoba lebih kejam dan jahat. Pecandu narkoba raganya ada, tetapi jiwanya tidak ada. Tidak ada keluarga yang utuh karena narkoba,” tegas Brigjen Pol Mada Roostanto.
Beliau juga memaparkan data keprihatinan terkait tren peningkatan penyalahgunaan narkoba di Kalimantan Tengah. Berdasarkan data referensi:
- 0,70% (±10.108 orang) pernah terpapar narkoba.
- 0,40% (±6.317 orang) merupakan pengguna aktif dalam satu tahun terakhir.
Sebagai refleksi, Brigjen Pol Mada Roostanto memberikan gambaran ngeri mengenai dampak pembiaran narkoba dengan mencontohkan kondisi di Philadelphia, Amerika Serikat. Wilayah tersebut kini dikenal dunia karena fenomena “kota zombie” akibat krisis narkotika yang tidak terkendali. Contoh ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen di Barito Utara agar tidak lengah dalam melakukan pengawasan berkelanjutan.
Audiensi ini diakhiri dengan kesepakatan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat dan pengawasan ketat di pintu-pintu masuk wilayah Barito Utara guna mewujudkan daerah yang benar-benar bersih dari narkoba.












